SUPINAA PARTY
![]()
ORGANISASI PELAJAR REVOLUSIONER SMANSA
SEKILAS TENTANG SUPINAA PARTY
Sejarah singkat didirikannya gerakan pelajar revolusioner Supinaa Party di SMAN 1 CIANJUR
Ada hantu yang menggentayangi Massa Pelajar; lembaga pendidikan yang tidak demokratis. Sekolah tidak hanya memeras pelajar dan orang tua mereka, tetapi semakin mempersempit celah pelajar untuk mengeskpresikan pendapat serta aspirasinya. Tetapi, sejatinya semua hal itu dilakukan oleh sekolah dalam rangka membangun tradisi feodal yang kolot; sekolah berusaha menjadikan pelajar-pelajar ini cuma sekadar kerbau yang diambil tenaganya dan hanya mengangguk-angguk saja.
Semua kegilaan itu dimulai dengan ditabukannya kritik terhadap Sekolah. Dengan hal itu, instansi pendidikan menggali lubang pertamanya untuk mengoyak kemanunggalan pelajar dengan sekolah. Dinding berupa kultus terhadap guru-guru lalu berdiri, dan akhirnya menciptakan sebuah bayangan hitam yang menutup mata pelajar. Membutakan mata dan fikiran mereka, menjadikan mereka hanya menghafal beberapa kata saja: "Baik, saya akan kerjakan".
Setelah dibutakan matanya, maka diikat pula indera-inderanya. Pelajar diajari hal-hal tidak perlu, lalu mulai digiring menuju kerangkeng nalar, yang menjadikan mereka lupa akan hajat hidupnya. Mereka dipaksa lupa, bahwa mereka adalah putera-puteri Ibu Pertiwi, yang menuntut ilmu buat mengabdi pada rakyat sebagai bentuk bakti pada Tanah tumpah darahnya. Mereka dilarang mempertanyakan otoritas yang merantai tangannya, Negara yang menjadi kekang lehernya, dan Nasionalisme semu yang menyumpal mulutnya. otak-otak mereka menjadi dinamo yang terus menerus menggerakan roda raksasa; duit yang berputar dari sela-sela bangku-bangku dan meja-meja di Sekolah mereka.
Anak-anak malang itu, putra-putri Ibu Bumi yang mulia itu, diracun oleh kapitalisme berkedok sekolah dengan tuhan-tuhan palsu: DUIT ! tiap paginya mereka merapal berapa lembar mampu mereka setorkan bulan ini, tiap sorenya mereka mengira berapa picis mampu mereka berikan tahun ini.
Karenanya, harus selalu ada oposisi; harus selalu ada kelompok yang menyeimbangkan keadaan.
Pada 2016, Supinaa Party berdiri. Diinisiasi oleh sekelompok siswa, partai ini didirikan sebagai kelompok diskusi filsafat dan politik yang bergerak secara klandestin. Supinaa Party selalu mendeskripsikan dirinya sebagai kelompok Diskusi dan Sharing Bebas. Partai ini memiliki fungsi utama sebagai tempat dimana anggotanya mampu membahas segala macam topik, berdebat dan berpidato, tentang segala hal. Tidak ada topik yang terlalu subversif untuk dibicarakan, tidak ada topik yang terlalu tabu untuk didiskusikan. Demikianlah, Supinaa Party memberikan sebuah wadah bagi pelajar SMANSA untuk membuka fikirannya, berdialektika dalam kehidupan sehari-hari, tanpa perlu melepaskan identas dirinya sebagai Pelajar yang disiplin dan tertib.
Supina Party selalu berusaha menjadikan Partai sebagai alat pendidikan politik bagi para anggotanya dengan mengajari mereka untuk beragitasi diantara sesama pelajar, memantik siswa SMANSA untuk berani mengungkapkan pendapatnya tanpa perlu takut kekangan moralitas ketimuran atau nasionalisme semu. Partai tidak menentukan Paham yang dianut, tetapi membuka celah untuk membahas ideologi-ideologi yang asing didengar, dan menggunakannya sesuai kebutuhan pelajar.
Sejatinya, Tradisi berfikir kreatif ini bukanlah hal yang baru di SMANSA. Beberapa guru telah memupuk kebiasaan ini, hingga pada puncaknya, Partai didirikan untuk mengorganisir siswa-siswa yang tertarik dengan pemikiran ini.
Partai telah berdiri, tapi baru tahun 2017 Partai menunjukan eksistensinya sebagai Organisasi Revolusioner yang menyebarkan pemikiran radikal di SMANSA. Literatur-literatur Partai yang sudah disusun sejak lama pada akhirnya mulai digandakan kembali untuk disebarluaskan meski dipandang ekstrim oleh beberapa pihak. Pertemuan-pertemuan Partai pun mulai diadakan bagi umum, akhirnya nama Partai perlahan-lahan mulai dikenal oleh civitas academica SMANSA.
Namun sebagaimana gerakan-gerakan revolusioner lainnya, Partai mulai dimata-matai dan diawasi oleh pihak sekolah. Sadar dengan bahaya ini, Partai mulai menerapkan kembali bentuk klandestin awal Partai, dan anggotanya dipecah lalu disebar di esktrakurikuler-ekstrakurikuler untuk menyebarkan ide -ide perjuangan Partai. Perjuangan yang timbul-tenggelam, tetapi masih dengan semangat yang sama: mendidik Massa Pelajar lewat politik dan gerakan oposisi.
Meski sarat dengan istilah dan simbolisme gerakan kiri, sebenarnya Partai tidak punya ideologi pegangan yang tetap. Metodologi perjuanganya memang didasari oleh materialisme dan dialektika marxis, tapi hal tersebut semata-mata karena pada saat Partai didirikan, masyarakat sedang memupuk sikap anti-komunisme. Sejalan dengan Manifesto Partai Supinaa, Partai akan mengambil posisi sebagai oposisi selamanya.
Jika Sekolah suatu waktu condong kearah pemikiran liberalisme, maka Partai akan memilih jalur konservatifisme. Jika masyarakat dipenuhi oleh orang-orang esktrim kiri, maka Partai akan berjuang dengan pemikiran-pemikiran ekstrim kanan. Demikianlah bagaimana tujuan Partai untuk selalu memilih jalur perlawanan, karena pertentangan-pertentangan ini akan mendidik kedua belah pihak menuju kemajuan berfikir dan ketajaman pikiran.